Eksistensi Manusia dalam Pandangan Jacques Maritain
Jacques Maritain ((1882-1973) adalah seorang filsuf Katolik
Prancis. Ia dibesarkan sebagai seorang Protestan. Kemudian menjadi seorang
agnostik sebelum konversinya Katolik pada tahun 1906. Maritain menulis lebih
dari 60 buku (karya). Ia juga kemudian menjadi soerang yang membantu menghidup
kembali pandangan-pandangan St. Thomas Aquinas untuk zaman modern.
Salah satu pandangan Maritain yang terkenal adalah berkaitan
dengan manusia. Jacques Maritain[1]
menegaskan bahwa kepribadian menandakan interioritas pada diri sendiri. Hal ini
membedakan manusia dengan makhluk ciptaan lainnya, seperti tanaman dan hewan.
Setiap pribadi melampaui ambang kemerdekaan dan subjektivitas orang tidak
memiliki kesamaan dengan kesatuan yang terisolasi, tanpa pintu atau jendela,
dari monad Leibnizian. Di sini kita membutuhkan komunikasi pengetahuan dan
cinta. Dengan fakta bahwa masing-masing dari kita adalah pribadi dan
mengekspresikan dirinya kepada dirinya sendiri. Setiap pribadi membutuhkan
komunikasi dengan yang lain dalam pengetahuan dan cinta.
Hemat penulis, konsep Maritain ini mau menyatakan jadi diri dari setiap
individu. Penulis menemukan beberapa poin penting tentang manusia dari pernyataannya.
Pertama, manusia harus hidup dalam realitasnya sendiri. Setiap pribadi
diminta untuk menikmati hidupnya. Panggilan untuk melakukan sebuah tindakan
yang baik tidak bisa diganti oleh siapapun, itu harus dilakukan secara persona.
Kedua, tindakan. Artinya setiap pribadi akan menjadi ada jika ia
melakukan apa yang ia pikirkan. Hal ini juga tampak dalam pemikiran Thomas
Aquinas bahwa pribadi adalah the act of being.[2]
Orang yang tidak pernah merealisasikan pikirannya bukanlah pribadi yang utuh. Ketiga,
komunikasi. Pribadi terkait dengan perjumpaan dengan pribadi yang lain.
Dinamika kebersaman adalah wadah pengungkapan setiap pribadi. Artinya manusia
hanya menjadi pribadi jika berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain.
Dengan komunikasi, manusia mengungkapkan diri, kemauan dan keunikannya. Akan
tetapi, Maritain menegaskan bahwa setiap pribadi dalam mengeskpresikan atau
berkomunikasi perlu adanya pengetahuan cinta.
Dalam pemikirannya ini, Maritain juga menangkat pandangan Gottfried
Wilhelm von Leibniz tentang monad. Leibniz mengatakan bahwa monad-monad
(monos=satu, monad=satu unit) “tidak berjendela yang membuat sesuatu bisa masuk
atau keluar.”[3]
Ia juga mengatakan bahwa ada monad pertama, yaitu Tuhan (pada saat penciptaan
mengadakan “harmonie preetiblie” di antara monad-monad terbatas
ciptaan-Nya sebagaimana terlihat dalam kehidupan).[4]
Jadi, Tuhan menghadirkan harmoni. Maritain juga menggunakan gagasan ini bahwa
roh dan pribadi manusia berasal dari-Nya dalam memiliki sebagai prinsip
kehidupan jiwa spiritual yang mampu mengetahui, mencintai, dan ditinggikan oleh
kasih karunia untuk berperan serta dalam kehidupan Allah sehingga akhirnya, itu
mungkin mengenal dan mencintai-Nya sebagaimana Dia mengetahui dan mencintai
diri-Nya sendiri.
Penulis melihat pandangan Maritain
sangat relevan dengan konteks kehidupan kita di tengah pandemic covid-19. Kita diharapkan untuk terus produktif berkarya
dan memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada selama kita masih hidup supaya
bisa memberi manfaat kepada orang lain walaupun ada permasalahan apapun. Meskipun, #DiRumahAja, kita tetap bisa
produktif dan berkarya secara virtual/daring
dengan memanfaatkan berbagai platform digital yang ada. Dengan media dan
segala sarana yang ada kita patut untuk membantu sesama yang lain. Tidak lupa juga untuk selalu bersyukur, mengandalkan Tuhan
dalam setiap langkah perjalanan, dan menerapkan hidup yang penuh dengan cinta
kasih. Kita bisa mencerminkan nilai-nilai
kehidupan dimulai dari hal-hal kecil yang berada di sekitar kita.
[1]
Jacques Maritain and John J. FritzGerald, The Person and The Common Good
dalam “The Review of Politics” Vol.8, No.4 (Oct., 1946), Cambridge University
Press, Inggris, 433.
[2] Kasdin
Sitohang, Filsafat Manusia; Upaya Membangkitkan Humanisme, Kanisius,
Yogyakarta 2009, 41.
[3]
Masykur Arif Rahman, Sejarah Filsafat
Barat, IrciSoD, Yogyakarta 2013, 251.
[4]
Masykur Arif Rahman, Sejarah Filsafat
Barat, 252.

Mulai dari hal-hal kecil untuk menyusun hal besar😅👍🤗mantap kae fr👍👍di tunggu karya selanjutnya💪😎
BalasHapusMks atas respon dan komentarnya kaka... Itulah yang seringkali kita lupakan. Kita bisa sampai pada halbyg besar itu sbnrnya bermula dari hal2 kecil. Semoga bermnfaat.
HapusPenulis telah mengekspresikan dirinya dalam berabagi bentuk dalam upaya pandangan yang berkaitan dengan makhluk hidup ciptaan tuhan diantaranya ialah manusia, tanaman, dan hewan.
BalasHapusDisini, Manusia juga akan di jabarkan dalam karakteristik hidup yang akan di jalankan semasa hidupnya, yang menyangkut pribadi sosial, keistimewahan, pola pikir, dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, kita sebagai makhluk sosial yang berakal budi, tentunya dapat memahami segala bentuk dinamika, kehidupan yang nyata, akan masa depan yang akan di jalankan dengan seiringnya waktu yang berjalan.
Saya sangat mengapresiasi tanggapan ini. Sangat bermakna... Semoga bisa menjadi nilai tambah untuk kita benah hidup kita sebagi manusia yag memiliki akal budi. T
HapusGreat prof,,,,,,,,,,,,,,,,Baik, terima kasih dan lanjutkan,,,,,,,,,,,,,
BalasHapusmks banya buat senior.... Salam Sehat kk
HapusMenulis merupakan suatu ekspresi dari sejatinya subjektivitas manusia itu sendiri. Karena itu, lanjutkan abang....
BalasHapus