Menalar Logika Kehidupan Zaman Now



Setiap individu selalu memimpikan hidupnya untuk mencapai pada titik maksimal “kebahagiaan.” Tapi makna kebahagian dalam konteks sekarang hanyalah bersifat semu. Kematian subjektivitas manusia membuat kita tak dapat membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Dua kata yang mengungkapkan perasaan, tapi maknanya sangatlah distingtif.

Fondasi kebahagiaan adalah konsumerisme tanpa henti, tanpa sadar, dan tidak mau tahu. Dalam keadaan ini kita seolah-olah sedang memberi warna kotor dalam lembaran-lembaran kehidupan. Bersaing dalam dunia free style menjadi momok yang sedang bercokol dalam dunia sekarang.

Rene Descartes(1596-1650) adalah Bapak Filsuf Modern menyatakan “cogito ergo sum, saya berpkir maka saya ada. Eksistensi persoalan terlihat jelas dalam aktivitas berpikir manusia. Di era kapiltalisme modern ini, muncul sesanti yang baru “consume ergo sum; i shop, therefore i am: saya berbelanja maka saya ada. Aktivitas ini tampak dalam diri manusia zaman now yang bermentalitas instan.

Pada dasarnya, kehidupan manusia ditopang oleh alam. Artinya manusia sangat bergantung pada alam. Ketidaksadaran akan ketergantungan ini menimbulkan leap sikap yang tidak tepat dalam relasi dengan alam. Ironisnya, manusia kerap kali memposisikan dirinya sebagai “raja” atas alam yang tampak dalam perbuatan destruktif. Alam tidak lagi dipandang sebagai ibu kehidupan yang memberikan hidup tetapi sebatas sebagai objek yang dikeruh demi kenikmatan semata manusia tak berhati.

Kedangkalan ini terarfirmasi dalam relasi subjek-objek yang melahirkan krisis ekologis. Hala ini sangat mengancam keberlangsungan seluruh makhluk hidup, tanpa kecuali. Keadaan ini mengkhawatirkan dan berdampak buruk  bagi seluruh makhluk hidup tidak hanya hari ini tetapi juga  pada hari esok.

Free style konsumtif lahir dari pemujaan terhadap materi. Gaya hidup yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kenikmatan, bahkan kepuasan. Anomali ini tidak berada pada tataran hidup hemat. Namun mengarah pada kecenderungan untuk menggunakan segala sesuatu sepuas-puasnya. Akarnya adalah sikap hidup tamak yang terus bercokol dalam setiap individu.

Phitagoras (570-495 SM), seorang Filsuf Yunani Kuno menyatakan arche adalah bilangan atau jumlah. Kehidupan manusia terstandarisasi dalam bilangan. Keberadaan manusia sekarang diukur dengan banyaknya harta. Dari mana datangnya harta? Kehadiran harta bukan seperti logika cinta yang tersemi dalam setiap individu. Tetapi harta yang bergemilang itu diproleh melalui eksploitasi yang berlebihan pada sumber daya alam. Demi mencapai prestise yang baik setiap orang berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Apakah gayamu akan  merepresentasi kebahagiaan hidupmu? So what?





Komentar

  1. "Aku berbelanja maka aku ada." Asiiik👍🏻👍🏻😍 pemikiran kritis yang sangat bermanfaat, khususnya bagi kaum muda yang cenderung terjebak dalam budaya konsumerisme.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mkasih banyak buat kk dosen, ahli bahasa buat komentarnya... Semoga bermanfaat. Gb

      Hapus
  2. Good Job Frater..
    di tunggu karya2 selanjutnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mks banyakkk... Ini orng yang lagi studi dijepang yang komentar.... salm Sehat ya sister

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ajaran Trinitas Menurut Athanasius

Keselamatan dalam Pandangan Agustinus dan Anselmus

Eksistensi Manusia dalam Pandangan Jacques Maritain